kisah singkat rosulullah saw.

Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial.

Nabi Muhammad SAW adalah pusat keteladanan. Segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan umat Islam, dulu dan sekarang. Haditsnya menjadi sumber hukum (mashdar al-hukm) kedua setelah Alquran. Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial. Itu sebabnya, jika waktu kelahirannya dirayakan, maka saat kematiannya tidak. Perihal kelahirannya, sebagian umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada Senin pagi menjelang subuh, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (`am al-fil). Disebut begitu karena bertepatan dengan tahun penyerangan “Pasukan Gajah” pimpinan Abrahah (Gubernur Abisinia) ke Kabah.

Namun, dengan merujuk pada buku-buku sejarah, kita akan mengerti bahwa tak ada kepastian tentang jam, hari, tanggal dan bulan kelahiran Muhammad SAW. Dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, 260-267), Ibnu Katsir menjelaskan keanekaragaman pandangan para ulama tentang kelahiran Nabi. Husain Haikal juga menjelaskan pluralitas pendapat tersebut dalam Hayat Muhammad (hlm. 102). Mengenai tahun kelahirannya misalnya terdapat beberapa pendapat. Menurut Ibnu Abbas, Muhammad lahir pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat, kelahirannya lima belas tahun sebelum peritiwa penyerangan Kabah itu. Ada yang memperkirakan beberapa hari (satu bulan, empat puluh hari, lima puluh hari), beberapa bulan, bahkan beberapa tahun setelah Tahun Gajah. Menurut Abi Ja`far al-Baqir, Muhammad lahir 55 hari setelah peristiwa pasukan bergajah itu. Yang lain menghitung sepuluh tahun, dua puluh tiga tahun, tiga puluh tahun hingga tujuh puluh tahun setelah Tahun Gajah. Abu Zakaria al-Ajalani berpendapat, Muhammad lahir empat puluh tahun setelah Tahun Gajah.

Begitu juga tentang bulan dan tanggal kelahirannya. Sebagian ulama berpendapat, Muhammad lahir pada bulan Rabiul Awal. Yang lain berpendapat, bulan Muharram, Safar, Rajab. Ibnu Abdil Birri mengutip pendapat al-Zubair ibn Bikar bahwa Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Ramadan. Sementara tanggal kelahirannya diperkirakan sebagian ulama jatuh pada tanggal 2, 9, 17 Rabiul Awal. Ibnu Hazm berpendapat, kelahiran Muhammad jatuh pada 8 Rabiul Awal. Ibnu Ishaq berpendapat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Ulama pun berbeda pendapat, tentang waktu kelahirannya; siang atau malam. Satu ulama berpendapat siang, yang lain mengatakan malam. Begitu juga dengan hari kelahirannya. Ada yang berpendapat Senin. Yang lain berpendapat Jumat. Seorang sahabat Nabi, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 18 Rabiul Awal.

Artikel ini hendak menegaskan bahwa di kalangan ulama Islam klasik sendiri tak ada konsensus (ijma`) tentang waktu kelahiran Nabi Muhammad. Ini terjadi karena tak ada tradisi pencatatan waktu kelahiran seorang bayi saat itu. Baik ibunda maupun kakek Nabi tak mencatat kelahiran anak atau cucunya itu sehingga wajar kalau terjadi kesimpangsiuran waktu kelahiran Muhammad. Jelas, ketepatan dan kepersisan tanggal kelahiran seorang tokoh sekian ribu tahun lalu tak mudah ditunaikan. Tak ada kepastian tentang waktu kelahiran Nabi Isa, Nabi Musa, apalagi Nabi Ibrahim lalu Nabi Adam. Semua tanggal dan tahun kelahiran mereka ditentukan kemudian, berdasar asumsi dan prakiraan dan akhirnya membentuk keimanan. Lalu siapa sesungguhnya yang lahir di Mekah pada Senin 12 Rabiul Awal 1500 tahun lalu itu? Kita tak tahu. Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H.

Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu  ternyata  tenteram

adanya.  Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu

itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan  bersama  Khadijah,

yang  setia  dan  penuh  kasih,  hidup sebagai ayah-bunda yang bahagia  dan  rela.  Oleh  karena  itu  wajar  sekali  apabila Muhammad  membiarkan dirinya berjalan sesuai dengan bawaannya,

bawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan  percakapan

masyarakatnya  tentang  berhala-berhala,  serta  apa pula yang

dikatakan orang-orang Nasrani dan Yahudi tentang  diri  mereka

itu.  Ia  berpikir  dan merenungkan. Di kalangan masyarakatnya

dialah orang yang paling banyak berpikir  dan  merenung.  Jiwa

yang   kuat  dan  berbakat  ini,  jiwa  yang  sudah  mempunyai

persiapan kelak akan menyampaikan risalah  Tuhan  kepada  umat

manusia,  serta  mengantarkannya  kepada kehidupan rohani yang

hakiki, jiwa demikian tidak mungkin berdiam diri saja  melihat

manusia  yang  sudah  hanyut  ke dalam lembah kesesatan. Sudah

seharusnya  ia  mencari  petunjuk  dalam  alam  semesta   ini,

sehingga  Tuhan  nanti  menentukannya  sebagai orang yang akan

menerima risalahNya. Begitu besar  dan  kuatnya  kecenderungan

rohani  yang  ada  padanya,  ia tidak ingin menjadikan dirinya

sebangsa dukun atau ingin menempatkan diri sebagai ahli  pikir

seperti  ,  dilakukan  oleh  Waraqa b. Naufal dan sebangsanya.

Yang dicarinya hanyalah  kebenaran  semata.  Pikirannya  penuh

untuk  itu,  banyak  sekali ia bermenung. Pikiran dan renungan

yang berkecamuk dalam hatinya itu  sedikit  sekali  dinyatakan

kepada orang lain.

Sudah  menjadi  kebiasaan  orang-orang  Arab  masa  itu  bahwa

golongan berpikir mereka  selama  beberapa  waktu  tiap  tahun

menjauhkan   diri   dari   keramaian   orang,  berkhalwat  dan

mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa  dan

berdoa,    mengharapkan   diberi   rejeki   dan   pengetahuan.

Pengasingan  untuk  beribadat  semacam  ini   mereka   namakan

tahannuf dan tahannuth.6

Di  tempat  ini  rupanya  Muhammad mendapat tempat yang paling

baik guna mendalami pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam

dirinya.  Juga  di  tempat ini ia mendapatkan ketenangan dalam

dinnya serta obat penawar hasrat hati yang  ingin  menyendiri,

ingin  mencari  jalan  memenuhi kerinduannya yang selalu makin

besar, ingin mencapai ma’rifat serta mengetahui  rahasia  alam

semesta.

Di  puncak  Gunung  Hira,  – sejauh dua farsakh7 sebelah utara

Mekah -terletak  sebuah  gua  yang  baik  sekali  buat  tempat

menyendiri  dan  tahannuth. Sepanjang bulan Ramadan tiap tahun

ia pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan

bekal  sedikit  yang  dibawanya.  Ia  tekun dalam renungan dan

ibadat,  jauh  dari  segala  kesibukan  hidup  dan   keributan

manusia. Ia mencari Kebenaran, dan hanya kebenaran semata.

Demikian  kuatnya  ia  merenung mencari hakikat kebenaran itu,

sehingga lupa ia akan dirinya, lupa makan,  lupa  segala  yang

ada  dalam  hidup  ini.  Sebab,  segala  yang dilihatnya dalam

kehidupan manusia sekitarnya,  bukanlah  suatu  kebenaran.  Di

situ  ia  mengungkapkan  dalam  kesadaran batinnya segala yang

disadarinya. Tambah tidak suka lagi ia akan  segala  prasangka

yang pernah dikejar-kejar orang.

Ia  tidak  berharap kebenaran yang dicarinya itu akan terdapat

dalam  kisah-kisah  lama  atau  dalam   tulisan-tulisan   para

pendeta,  melainkan dalam alam sekitarnya: dalam luasan langit

dan bintang-bintang, dalam bulan dan  matahari,  dalam  padang

pasir  di  kala  panas  membakar  di bawah sinar matahari yang

berkilauan.  Atau  di  kala  langit  yang  jernih  dan  indah,

bermandikan  cahaya  bulan  dan bintang yang sedap dan lembut,

atau dalam laut dan deburan ombak, dan dalam segala  yang  ada

di  balik  itu,  yang  ada hubungannya dengan wujud ini, serta

diliputi seluruh kesatuan wujud. Dalam alam itulah ia  mencari

Hakekat Tertinggi. Dalam usaha mencapai itu, pada saat-saat ia

menyendiri demikian jiwanya  membubung  tinggi  akan  mencapai

hubungan   dengan  alam  semesta  ini,  menembusi  tabir  yang

menyimpan semua rahasia. Ia tidak memerlukan permenungan  yang

panjang  guna  mengetahui  bahwa  apa  yang oleh masyarakatnya

dipraktekkan dalam soal-soal  hidup  dan  apa  yang  disajikan

sebagai  kurban-kurban  untuk  tuhan-tuhan  mereka  itu, tidak

membawa  kebenaran  samasekali.  Berhala-berhala  yang   tidak

berguna, tidak menciptakan dan tidak pula mendatangkan rejeki,

tak dapat memberi perlindungan kepada  siapapun  yang  ditimpa

bahaya.  Hubal,  Lat  dan  ‘Uzza,  dan semua patung-patung dan

berhala-berhala  yang  terpancang  di  dalam  dan  di  sekitar

Ka’bah,  tak  pernah menciptakan, sekalipun seekor lalat, atau

akan mendatangkan suatu kebaikan bagi Mekah.

Tetapi! Ah, di mana gerangan kebenaran itu! Gerangan  di  mana

kebenaran  dalam  alam  semesta  yang  luas  ini,  luas dengan

buminya, dengan lapisan-lapisan langit dan bintang-bintangnya?

Adakah  barangkali  dalam  bintang  yang  berkelip-kelip, yang

memancarkan cahaya dan kehangatan kepada  manusia,  dari  sana

pula  hujan  diturunkan,  sehingga karenanya manusia dan semua

makhluk yang ada di muka bumi ini hidup dari air, dari  cahaya

dan  kehangatan  udara?  Tidak! Bintang-bintang itu tidak lain

adalah  benda-benda  langit  seperti  bumi  ini   juga.   Atau

barangkali  di  balik  benda-benda  itu terdapat eter yang tak

terbatas, tak berkesudahan?

Tetapi apa eter itu? Apa hidup yamg kita alami  sekarang,  dan

besok  akan  berkesudahan?  Apa  asalnya,  dan  apa sumbernya?

Kebetulan sajakah bumi ini dijadikan dan dijadikan  pula  kita

di  dalamnya? Tetapi, baik bumi atau hidup ini sudah mempunyai

ketentuan yang pasti yang tak berubah-ubah, dan tidak  mungkin

bila  dasarnya hanya kebetulan saja. Apa yang dialami manusia,

kebaikan atau keburukan, datang atas kehendak manusia sendiri,

ataukah itu sudah bawaannya sendiri pula sehingga tak kuasa ia

memilih yang lain?

Masalah-masalah kejiwaan dan kerohanian serupa itu,  itu  juga

yang  dipikirkan  Muhammad  selama  ia  mengasingkan  diri dan

bertekun dalam Gua Hira’. Ia ingin melihat Kebenaran  itu  dan

melihat   hidup  itu  seluruhnya.  Pemikirannya  itu  memenuhi

jiwanya, memenuhi jantungnya, pribadinya dan seluruh wujudnya.

Siang  dan  malam  hal  ini menderanya terus menerus. Bilamana

bulan Ramadan sudah berlalu dan ia  kembali  kepada  Khadijah,

pengaruh  pikiran yang masih membekas padanya membuat Khadijah

menanyakannya selalu, karena diapun ingin  lega  hatinya  bila

sudah diketahuinya ia dalam sehat dan afiat.

Dalam  melakukan  ibadat  selama  dalam  tahannuth  itu adakah

Muhammad menganut sesuatu  syariat  tertentu?  Dalam  hal  ini

ulama-ulama  berlainan  pendapat.  Dalam Tarikh-nya Ibn Kathir

menceritakan sedikit tentang pendapat-pendapat mereka mengenai

syariat  yang  digunakannya  melakukan  ibadat  itu:  Ada yang

mengatakan menurut syariat Nuh, ada  yang  mengatakan  menurut

Ibrahim,  yang  lain  berkata  menurut  syariat Musa, ada yang

mengatakan menurut Isa dan  ada  pula  yang  mengatakan,  yang

lebih  dapat dipastikan, bahwa ia menganut sesuatu syariat dan

diamalkannya. Barangkali  pendapat  yang  terakhir  ini  lebih

tepat daripada yang sebelumnya. Ini adalah sesuai dengan dasar

renungan dan pemikiran yang menjadi kedambaan Muhammad.

Tahun telah berganti tahun dan  kini  telah  tiba  pula  bulan

Ramadan. Ia pergi ke Hira’, ia kembali bermenung, sedikit demi

sedikit ia bertambah matang, jiwanyapun semakin penuh. Sesudah

beberapa  tahun jiwa yang terbawa oleh Kebenaran Tertinggi itu

dalam tidurnya bertemu dengan mimpi  hakiki  yang  memancarkan

cahaya  kebenaran  yang  selama ini dicarinya Bersamaan dengan

itu pula dilihatnya hidup yang sia-sia, hidup tipu-daya dengan

segala macam kemewahan yang tiada berguna.

Ketika  itulah ia percaya bahwa masyarakatnya telah sesat dari

jalan yang benar, dan  hidup  kerohanian  mereka  telah  rusak

karena    tunduk    kepada    khayal   berhala-berhala   serta

kepercayaan-kepercayaan  semacamnya  yang  tidak  kurang  pula

sesatnya.  Semua yang sudah pernah disebutkan oleh kaum Yahudi

dan kaum Nasrani tak dapat menolong mereka dari kesesatan itu.

Apa  yang  disebutkan  mereka  itu masing masing memang benar;

tapi masih mengandung  bermacam-macam  takhayul  dan  pelbagai

macam  cara  paganisma,  yang  tidak  mungkin  sejalan  dengan

kebenaran  sejati,  kebenaran  mutlak  yang  sederhana,  tidak

mengenal   segala  macam  spekulasi  perdebatan  kosong,  yang

menjadi pusat perhatian kedua golongan  Ahli  Kitab  itu.  Dan

Kebenaran  itu ialah Allah, Khalik seluruh alam, tak ada tuhan

selain Dia. Kebenaran itu ialah Allah Pemelihara semesta alam.

Dialah  Maha  Rahman dan Maha Rahim. Kebenaran itu ialah bahwa

manusia   dinilai   berdasarkan   perbuatannya.   “Barangsiapa

mengerjakan  kebaikan  seberat  atompun  akan  dilihatNya. Dan

barangsiapa  mengerjakan  kejahatan   seberat   atompun   akan

dilihatNya  pula.”  (Qur’an, 99:7-8) Dan bahwa surga itu benar

adanya dan nerakapun benar adanya. Mereka yang menyembah tuhan

selain Allah mereka itulah menghuni neraka, tempat tinggal dan

kediaman yang paling durhaka.

Muhammad sudah menjelang usia empatpuluh tahun.  Pergi  ia  ke

Hira’  melakukan  tahannuth.  Jiwanya  sudah  penuh  iman atas

segala apa yang telah dilihatnya dalam mimpi  hakiki  itu.  Ia

telah  membebaskan  diri  dari  segala  kebatilan. Tuhan telah

mendidiknya, dan didikannya baik sekali. Dengan sepenuh  kalbu

ia  menghadapkan  diri  ke  jalan lurus, kepada Kebenaran yang

Abadi. Ia telah menghadapkan diri kepada Allah dengan  seluruh

jiwanya  agar  dapat  memberikan  hidayah dan bimbingan kepada

masyarakatnya yang sedang hanyut dalam lembah kesesatan.

Dalam hasratnya menghadapkan diri itu ia bangun tengah  malam,

kalbu  dan  kesadarannya  dinyalakan. Lama sekali ia berpuasa,

dengan begitu renungannya dihidupkan. Kemudian ia  turun  dari

gua  itu,  melangkah ke jalan-jalan di sahara. Lalu ia kembali

ke tempatnya berkhalwat,  hendak  menguji  apa  gerangan  yang

berkecamuk  dalam  perasaannya itu, apa gerangan yang terlihat

dalam mimpi itu? Hal serupa itu berjalan  selama  enam  bulan,

sampai-sampai  ia  merasa  kuatir  akan  membawa  akibat  lain

terhadap  dirinya.  Oleh  karena  itu   ia   menyatakan   rasa

kekuatirannya  itu  kepada  Khadijah dan menceritakan apa yang

telah dilihatnya. Ia kuatir kalau-kalau  itu  adalah  gangguan

jin.

Tetapi  isteri  yang  setia  itu  dapat menenteramkan hatinya.

dikatakannya bahwa dia adalah al-Amin, tidak mungkin jin  akan

mendekatinya,  sekalipun  memang tidak terlintas dalam pikiran

isteri  atau  dalam  pikiran  suami  itu,  bahwa  Allah  telah

mempersiapkan  pilihanNya itu dengan memberikan latihan rohani

sedemikian rupa guna menghadapi saat yang dahsyat, berita yang

dahsyat,  yaitu  saat  datangnya  wahyu pertama. Dengan itu ia

dipersiapkan untuk membawakan pesan dan risalah yang besar.

Tatkala ia sedang dalam keadaan tidur dalam  gua  itu,  ketika

itulah datang malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata

kepadanya: “Bacalah!” Dengan terkejut Muhammad menjawab: “Saya

tak   dapat   membaca”.   Ia   merasa   seolah  malaikat  itu

mencekiknya, kemudian dilepaskan  lagi  seraya  katanya  lagi:

“Bacalah!”  Masih  dalam  ketakutan akan dicekik lagi Muhammad

menjawab: “Apa yang akan saya baca.” Seterusnya  malaikat  itu

berkata:  “Bacalah!  Dengan  nama  Tuhanmu  Yang  menciptakan.

Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan  Tuhanmu

Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada

manusia apa yang belum diketahuinya …” (Qur’an 96:1-5)

Lalu ia mengucapkan bacaan  itu.  Malaikatpun  pergi,  setelah

kata-kata itu terpateri dalam kalbunya.8

Tetapi  kemudian ia terbangun ketakutan, sambil bertanya-tanya

kepada dirinya:  Gerangan  apakah  yang  dilihatnya?!  Ataukah

kesurupan  yang  ditakutinya  itu  kini  telah menimpanya?! Ia

menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi  tak  melihat  apa-apa.  Ia

diam  sebentar,  gemetar  ketakutan.  Kuatir  ia akan apa yang

terjadi dalam gua itu. Ia lari dari tempat itu. Semuanya serba

membingungkan.   Tak  dapat  ia  menafsirkan  apa  yang  telah

dilihatnya itu.

Cepat-cepat ia  pergi  menyusuri  celah-celah  gunung,  sambil

bertanya-tanya  dalam hatinya: siapa gerangan yang menyuruhnya

membaca itu?! Yang pernah dilihatnya sampai saat itu sementara

dia  dalam  tahannuth,  ialah  mimpi hakiki yang memancar dari

sela-sela renungannya, memenuhi dadanya, membuat jalan yang di

hadapannya  jadi  terang-benderang,  menunjukkan kepadanya, di

mana kebenaran itu. Tirai gelap yang selama itu  menjerumuskan

masyarakat  Quraisy  ke dalam lembah paganisma dan penyembahan

berhala, jadi terbuka.

Sinar  terang-benderang  yang  memancar  di   hadapannya   dan

kebenaran  yang  telah  menunjukkan jalan kepadanya itu, ialah

Yang Tunggal Maha Esa.  Tetapi  siapakah  yang  telah  memberi

peringatan tentang itu, dan bahwa Dia yang menicptakan manusia

dan bahwa Dia  Yang  Maha  Pemurah,  Yang  mengajarkan  kepada

manusia dengan pena, mengajarkan apa yang belum diketahuinya?

Ia  memasuki  pegunungan  itu  masih  dalam  ketakutan,  masih

bertanya-tanya. Tiba-tiba ia mendengar ada suara memanggilnya.

Dahsyat   sekali  terasa.  Ia  melihat  ke  permukaan  langit.

Tiba-tiba yang terlihat adalah malaikat dalam bentuk  manusia.

Dialah yang memanggilnya. Ia makin ketakutan sehingga tertegun

ia di tempatnya. Ia memalingkan muka dari yang dilihatnya itu.

Tetapi  dia  masih  juga  melihatnya  di  seluruh ufuk langit.

Sebentar  melangkah  maju  ia,  sebentar  mundur,  tapi   rupa

malaikat  yang sangat indah itu tidak juga lalu dari depannya.

Seketika lamanya ia dalam keadaan  demikian.  Dalam  pada  itu

Khadijah  telah  mengutus  orang  mencarinya ke dalam gua tapi

tidak menjumpainya.

Setelah rupa malaikat itu  menghilang  Muhammad  pulang  sudah

berisi wahyu yang disampaikan kepadanya. Jantungnya berdenyut,

hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya Khadijah  sambil

ia  berkata:  “Selimuti  aku!”  Ia segera diselimuti. Tubuhnya

menggigil seperti dalam  demam.  Setelah  rasa  ketakutan  itu

berangsur  reda  dipandangnya  isterinya dengan pandangan mata

ingin mendapat kekuatan.

“Khadijah, kenapa aku?” katanya. Kemudian  diceritakannya  apa

yang  telah  dilihatnya,  dan dinyatakannya rasa kekuatirannya

akan teperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi  seperti  juru

nujum saja.

Seperti  juga ketika dalam suasana tahannuth dan dalam suasana

ketakutannya  akan  kesurupan   Khadijah   yang   penuh   rasa

kasih-sayang,  adalah  tempat  ia  melimpahkan  rasa damai dan

tenteram kedalam hati yang besar itu, hati yang  sedang  dalam

kekuatiran  dan  dalam  gelisah.  Ia tidak memperlihatkan rasa

kuatir atau rasa curiga. Bahkan dilihatnya ia dengan pandangan

penuh hormat, seraya berkata:

“O  putera  pamanku.9 Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi

Dia Yang  memegang  hidup  Khadijah,10  aku  berharap  kiranya

engkau  akan  menjadi  Nabi  atas  umat  ini. Samasekali Allah

takkan mencemoohkan kau; sebab engkaulah yang mempererat  tali

kekeluargaan,  jujur  dalam  kata-kata,  kau  yang mau memikul

beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang

dalam kesulitan atas jalan yang benar.”

Muhammad  sudah  merasa  tenang kembali. Dipandangnya Khadijah

dengan mata penuh terimakasih dan rasa kasih. Sekujur badannya

sekarang terasa sangat letih dan perlu sekali ia tidur. Ia pun

tidur, tidur  untuk  kemudian  bangun  kembali  membawa  suatu

kehidupan  rohani  yang  kuat,  yang  luarbiasa kuatnya. Suatu

kellidupan  yang  sungguh  dahsyat  dan  mempesonakan.  Tetapi

kehidupan  yang  penuh  pengorbanan,  yang tulus-ikhlas semata

untuk Allah, untuk kebenaran dan untuk perikemanusiaan. Itulah

Risalah Tuhan yang akan diteruskan dan disampaikan kepada umat

manusia dengan cara  yang  lebih  baik,  sehingga  sempurnalah

cahaya Allah, sekalipun oleh orang-orang kafir tidak disukai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: