pemuda yang bersyahadat

“Ketika masih muda, Muto-san adalah pemuda yang sederhana, cenderung pendiam, dan introvert,” ujar Dewi (istrinya, amanahland). Di sebuah festival kampus, tahun 1998 ia bertemu Muto Takanobu-san. Muto-san dengan tekun menulis notulen semua hasil perbincangan rekan-rekan peserta dalam rapat festival kampus saat itu. Tanpa banyak bicara dan berkomentar. ”Pendiam habis !” ujar Dewi lagi.
Setelah pertemuan itu, mereka sering bertemu di klub pecinta alam yang sama-sama kami masuki. Banyak medan mereka tempuh bersama dalam klub pecinta alam. Yang membuat Muto-san mengetahui bahwa mahasiswa luar negeri, yang beragama Islam, tidak bisa mengkonsumsi makanan tanpa mengetahui isi bahan makanan itu (kehalalannya).
Lewat pengalaman di pecinta alam, akhirnya Muto-san juga mengetahui jelas makanan yang bisa dikonsumsi oleh mahasiswa muslim. Yang akhirnya bila acara makan malam bersama diadakan, semua bahan makanan halal dari mahasiswa muslimlah yang dipakai. Kemudian tugas-tugas kuliah pun bagai menjadi jembatan bagi Muto-san mengenal Islam. Pertukaran bahasa di mana mahasiswa Indonesia lebih piawai dengan Bahasa Inggris menyebabkan Muto-san banyak bertanya tentang bahasa tersebut kepada mereka. Sebaliknya urusan Bahasa Jepang, Muto-san adalah tempat bertanya para mahasiswa Indonesia. Pokoknya bagai simbiosis mutualisme alias saling membutuhkan.

Suatu hari, di tengah suasana belajar bersama dan berdiskusi tugas kuliah, Muto-san bertanya tentang Islam, kelihatannya sambil lalu tanpa serius. Ia menanyakan, ”Kenapa sih Tuhan orang Islam itu tidak terlihat ?” Pertanyaan itu cukup membuat teman-teman muslim kaget. Sedikit tak siap untuk menjawab yang pas untuk saat itu.

“Tuhan orang Islam itu adalah Yang Maha Pencipta. Tidak sama dengan makhluk seperti kita. Dia memang tidak bisa dilihat, tapi kami bisa mengetahui keberadaa-Nya dengan mengetahui sifat-sifat-Nya,” ujar mahasiswa muslim. Jawaban kaget itu diucap dalam Bahasa Jepang yang masih minim.
“Wah, lebih asyik kalau Tuhannya orang Kristen, atau Buddha dong ya ! Penganut Kristen jelas berdoa dengan menggunakan salib. Bagi penganut Buddha menyembah patung Buddha. Saya pikir itu lebih gampang dimengerti dan kita juga lebih khusyuk bila berdoa dan bisa melihat yang kita sembah,” jawab Muto-san dengan percaya diri, seakan pasti benar.

Dengan sekuat jiwa dan raga, para mahasiswa muslim dan Dewi, yang juga ada di tengah mereka, menjawab serentak, “Sifat-sifat Tuhan itu tidak sama dengan makhluk ataupun zat-zat yang diciptakan-Nya. Tuhan itu satu, Dia kekal, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Tuhan orang Islam itu tidak tidur, tidak mati.”

Dan Muto-san tetap gigih mengatakan, “Bila ada tanda yang terlihat, tersentuh, dan ada bentuk bahwa itu ‘Kamisama: Tuhan’ pasti akan lebih mudah menjalankan ibadah.”
Setelah berkutat saling menjawab dan berargumentasi tiga jam lamanya, Muto-san tampaknya lelah dan berujar, “Oke, saya mengerti sekarang, masuk akal juga ya Tuhan orang Islam itu…,” sambil ia berlalu begitu saja. Tinggallah berpuluh mata menatap kepergiannya dengan rasa bingung. Melongo! Itulah kata yang tepat bagi posisi mereka saat itu.Pada pertemuan selanjutnya, mereka tak lagi membahas pertanyaan Muto-san, karena ia juga tidak menceritakan atau bertanya tentang Tuhan lagi. Pada ujian akhir semester selesai, para mahasiswa kembali ke aktivitas masing-masing, dan kadang-kadang mereka pergi hiking bersama teman-teman pecinta alam yang lain.

Maret tahun 1999, dua teman Jepang dari klub pecinta alam yang kembali dari Indonesia, menceritakan keindahan alam Indonesia. Akhirnya, Muto-san ingin pula berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 2000 Muto-san menapakkan kaki ke bumi Indonesia yang membawanya pula mengenal Tuhan, Allah Yang Esa, tak berbentuk dari bahan batu atau kayu dan tak terlihat kasat mata.

Muto-san berlibur ke Indonesia pada musim semi selama satu bulan. Ia berkunjung ke tiga keluarga teman Indonesianya yang telah disepakati oleh grup muslim Indonesia, agar menyambut dan memperkenalkan keindahan alam Indonesia, sesuai dengan hobi para pecinta alam itu. Salah satu keluarga yang dikunjungi adalah keluarga Dewi. Kebetulan ayah Dewi, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa di Temanggung, dengan senang hati memperkenalkan keindahan Yogyakarta dan Temanggung.

Muto-san datang dua hari sebelum lebaran haji tahun itu. Di hari selanjutnya seluruh keluarga Dewi berpuasa. Muto-san pun ikut berpuasa 9 Dzulhjjah tahun itu. Dan pada tanggal 10 Dzulhijjah, di hari shalat Idul Adha tiba, keluarga Dewi bermaksud meminta Muto-san untuk menunggu sendirian di rumah. Tetapi dengan spontan Muto-san menolak, sambil berkata, “Tolong bawa saya ke tempat shalat, saya tidak akan mengganggu.”Di lapangan desa, tentu saja semua orang banyak yang memandang heran atas kehadiran seorang pemuda Jepang masuk ke dalam barisan shalat. Dan semua orang di desa pun bertanya kepada Bapak Kepala Desa, “Pak, orang Jepang itu mau apa ?” Bapak Kepala Desa itu menjawab, “Oh, dia belum pernah lihat orang shalat Id, pingin lihat saja kok.”

Ketika shalat akan dilaksanakan, Bapak Kepala Desa itu meminta Muto-san untuk masuk ke bagian paling kanan shaf pertama. Dan selepas shalat Id, semua laki-laki di desa kami menyalami Muto-san. Sepulang dari shalat Id, tiba-tiba Muto-san menginterupsi anggota keluarga yang sedang bersiap untuk makan pagi Lebaran, dengan berkata, “Maaf… saya ingin menyampaikan sesuatu… Saya ingin masuk Islam.”

Seluruh anggota keluarga Dewi tertawa. Adik Dewi menyeletuk, “Nggak usahlah… jadi muslim itu ‘tidak enak’ lho. Kamu harus shalat lima waktu, harus puasa, dan menjalankan semua ibadah yang tidak pernah kamu kerjakan sebelumnya.”
Tak disangka Muto-san menjawab dengan mantap, “Saya sudah siap, saya akan shalat, saya bisa berpuasa, dan semua aturan Islam saya akan jalankan.”“Termasuk disunat ?” ujar adik Dewi menembak langsung. Muto-san seketika terperanjat, sambil meminta beberapa waktu untuk berpikir. Keluarga Dewi tidak menganggap hal itu serius. Jadi semua santai dan bersenda gurau saja di meja makan. Apalagi saat itu hari raya. Makanan lezat hari raya terhidang, lebih menjadi pusat perhatian keluarga.

Matahari mulai turun kemerah-merahan, tanda waktu petang menjelang. Muto-san kembali membawa berita, “Saya siap menjadi muslim. Tidak masalah saya disunat, saya sudah mantap ingin menjadi muslim !” ucapnya tegas.

Akhirnya semua keluarga diam terpaku, dan mulai memperhatikan keseriusan mimik Muto-san. Hanya rasa bangga dan haru menggelayut di dada-dada keluarga itu. Allah memang Maha Besar. Benar, Islam tidak pernah memaksa orang untuk memeluknya. Seperti firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 256).
Tiga hari setelah Muto mengutarakan niatnya untuk menjadi muslim, keluarga besar Dewi membawanya ke Masjid Syuhada, Yogyakarta, untuk bersyahadat di sana. Kebetulan hari itu ada pengajian mingguan. Setelah pengajian selesai, disaksikan oleh seluruh peserta pengajian, Muto-san pun mengikrarkan dirinya menjadi seorang muslim. Dua hari kemudian Muto-san dikhitan. Dalam kehidupan baru sebagai muslim, Muto-san memulai tahap belajarnya dari cara berwudhu, gerakan shalat, dan bacaan shalat, juga tata cara beribadah dalam kehidupan sehari-hari. Meniru anggota keluarga Bapak Kepala Desa itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: